Mbah Surip (Urip Ahmad Riyanto) dan WS Rendra (Wahyu Sulaeman Rendra) mrpkan bahasa alam (simbol) dg hakekat yg amat sangat tinggi utk bangsa ini. Sastra Jendra Hayuningrat, wujud karya SENI (SENtuhan rohaNI) yg dikumandangkan oleh kelompok SENIMAN Sejati negeri ini sbg manifestasi “SENtuhan rohaNI MANusia Sejati” di abad ini. Bukti Tuhan Maha Pemurah dan Maha Kasih kpd semua hamba Nya. Tuhan Maha Adil menggunakan media pesan Nya yg dpt diketahui dan dikenali oleh segenap bangsa ini tanpa terkecuali. Bebas dari hijab atau sekat apapun. Sejatinya Sasmita Narendra ditujukan kpd para raja atau pemimpin (ulama dan umaro’) sbg kritik membangun guna pembenahan implementasi kebijakannya dlm memimpin rakyat. Tp tdk ada salahnya di era skrg ini kita sbg rakyat biasa berupaya mengenalinya. Krn para pemimpin di jaman ini sudah tdk lagi memiliki kearifan dlm kepedulian dan tanggap akan sasmita alam. Semua Petunjuk Tuhan berupa ayat-ayat suci yg tertulis di semua kitab suci dan ayat-ayat suci yg terbentang di alam nyata maupun gaib diperuntukkan bagi hamba-hamba Nya yg sadar (eling dan waspada) dan mau berpikir atau merenung.
Banyak hakekat yg bisa dibedah dr sosok seniman yg tengah besar namanya spt Mbah Surip dan “raja seniman sastra/teater” WS Rendra yg tlh besar namanya sejak dulu hingga kini. Yg pasti mereka sbg sosok seniman melambangkan “Kebebasan Sejati”. Orang-orang yg ingin Merdeka dlm hidupnya, tdk terikat oleh apapun dan siapapun. Bahkan tdk ingin terjajah oleh segala penindasan dan bahkan hawa nafsunya sendiri. Mereka adlh lambang orang-orang yg “Apa Adanya” dlm melakoni hidup. Yg mereka ekspresikan hanyalah “Keindahan” semata, baik yg tengah dirasakan maupun ingin dirasakan menjadi sebuah pengharapan. “Jamillun min jamalullah. Inallaha wa yahibuj jamal”. Segala keindahan adlh milik Tuhan, oleh krn Tuhan Maha Indah. Sampai-sampai demi sebuah keindahan yg ingin diungkapkan dan digapai, seringkali mereka melupakan dirinya. Ini nampak dr rambutnya yg dibiarkan panjang bahkan bergimbal. Kalau meminjam istilah di dlm Tasawuf, semua yg melekat pd sosok “seniman sejati” adlh lambang “Ketawadhu’an” (rendah hati), Kezuhudan (tdk ingin diikat dan terikat dg dunia), Qona’ah (menerima apa adanya), Jujur, Sabar dan Ikhlas, serta Istiqomah (setia dan konsisten menjalani jalan hidupnya).” Secara hakekat inilah yg menjadi harapan Tuhan kpd segenap hamba Nya tanpa terkecuali sesuai dg titah dan kodratnya.
Semua itu ditujukan bagi “Kebahagiaan Hidup” agar terlepas dr jebakan kerusakan moral yang memuncak saat ini. Urip berarti Hidup. Ahmad (Muhammad) berarti Terpuji atau Beradab. Dan ini adlh hakekat Syahadat. Dzat yg menghidupkan segala dzat adlh Allah. Dan Muhammad (Nur Muhammad / Nur Ahmad) adlh segala apa yg tercipta dr Sabda Nya. Jika manusia mampu memahami hakekat Syahadat, lebih dr sekedar ucapan saja, maka Insya Allah akan mampu menemukan Kebahagiaan alias RIYANg To.., Enak to.., Mantep to.. Hidup Terpuji dan Beradab.. Krn mencapai kesadaran bhw kita manusia ini sejatinya “digèndhong” oleh Hidup itu sendiri. Kalau sdh tdk “digèndhong” alias ditinggal pergi oleh Hidup, ya.. tdk ada sebutan.. alias “Mati”. Mati indrawi, mati hati, mati rasa, akhirnya mati raga menjadi mayat. Meninggalkan kesia-siaan, kebusukan, bahkan musibah bagi yg ditinggalkan. Beruntunglah Harimau mati meninggalkan kulit belangnya, dan Gajah mati meninggalkan gadingnya. Spt halnya Mbah Surip dan WS Rendra yg mewariskan “Keberkahan” bagi yg ditinggalkan.
Perlambang ini lebih telak lagi krn kita disuruh mengingat dan merenungkan kisah Nabi Sulaeman dan Ratu Balqis. Singkat cerita dimana pd akhirnya Ratu Balqis sbg lambang “hawa buruk” awalnya, kemudian tunduk kpd Nabi Sulaeman stlh menerima surat yg bertulis kata : “Bismillahirrohmanirrohim”. Setelah itu Ratu Balqis tersadar dr kezalimannya dan mengajak para pembesarnya utk patuh dan berserah diri kpd Allah SWT. Dan yg lebih dalam tersirat dr hakekat sasmita/perlambang ini adlh bagi siapa saja yg mengabaikan atau menolak bahkan mengingkari pesan ini, mk resiko dan konsekuensinya adlh “tidak akan digèndhong” alias akan ditinggalkan “hidup sejati”nya. Kalau sdh begitu jadinya maka ya akan tersesat di jalan, dan merasakan ketidaknyamanan dr yg semestinya. Krn sejatinya kita ini semua hanya “numpang” hidup, numpang lewat dlm kehidupan di dunia ini. Orang Jawa bilang : “Urip mung sekedar mampir ngombé” (hidup hanya sekedar mampir minum). Jadi bisa dibayangkan jika kita meninggalkan atau melupakan kpd yg memberi tumpangan kita. Dlm hal ini Mbah Surip menawarkan diri utk menggèndhong drpd kita naik ojek, taxi, dan pesawat sekalipun supaya tdk kesasar krn ditipu daya bahkan kedinginan. Jangan meremehkan Mbah Surip. Kenali dulu siapa Mbah Surip ? Jangan keburu kita terjebak melihat casing luarnya (sosok penampilan luar) utk kemudian merendahkannya. Waspadalah.. Krn sejatinya Mbah Surip adlh hakekat lambang Urip atau Hidup yg menggèndhong kita selama ini kemana-mana. Haaa… Haaa… Haaa… Sadarkah kita ? Dan Mbah Surip hanya mampu tertawa menertawakan “kelucuan” polah tingkah manusia yg pada tertipu daya dan kesasar krn mengabaikan dan tdk mau memahami Mbah Surip.. èèhh.. HIDUP.. maksudnya.. Haaa… Haaa… Haaa…
( Luar biasa cara Eyang Semar atau Kaki Sabdo Palon dalam “bercanda” (guyon parikeno) menandai kehadirannya kembali di Tanah Jawa atau Nusantara (Jazirah al Jawi) ini pd tgl 5 Agustus 2009, hari Rabu (Buda) Kliwon (Syiwa), wuku Shinta, dan lambangnya Sanghyang Yamadipati (malaikat pati). Budak Angon tengah menggiring 18 Kerbau berjalan dari Selatan ke Utara. Dan yg terdengar hanya suara gentanya saja… Haaa… Haaa… Haaa… Tholé… Tholé… )
dikutip : Senin (Soma) Kliwon, 10 Agustus 2009 on Agustus 11, 2009 at 2:24 pm (http://nurahmad.wordpress.com/)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
semoga berguna